Lompat ke konten

Industri Pertambangan Batubara dan Manajemen Limbahnya

Dalam dunia industri pertambangan pengelolaan atau manajemen limbah menjadi fokus paling krusial. Karena dalam proses produksinya tentu ada banyak sumber daya bahan kimia berbahaya jika dibiarkan begitu saja.

Sehingga pemilik tambang memang harus melakukan langkah penanganan sekaligus mitigasi untuk mencegah pencemaran terjadi. Apalagi dengan adanya regulasi pemerintah sehingga kontrol semakin ketat.

Untung saja di era modern seperti sekarang banyak teknologi baru yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah pencemaran. Banyak juga metode treatment ramah lingkungan yang dapat diimplementasikan.

Industri pertambangan
Industri Pertambangan Batubara dan Manajemen Limbahnya yang kompleks

Pada kesempatan ini kami akan membahas manajemen limbah pertambangan agar alam tetap lestari. Sehingga aktivitas produksi energi dapat berjalan beriringan dengan konservasi lingkungan hidup.

Konsep ideal seperti itu sebenarnya bisa juga diimplementasikan jika mengetahui bagaimana caranya. Oleh karena itu simak ulasan berikut ini sampai tuntas sehingga Anda memiliki insight.

Pentingnya Manajemen Limbah pada Industri Pertambangan

Manusia tentu tidak akan pernah tergugah dan mencoba hal baru jika tidak mengetahui penyebabnya. Oleh karena itu pada segmen pertama ini akan kami jelaskan pentingnya pengolahan limbah.

Menjaga kesehatan pekerja Pada Industri Pertambangan

Salah satu hal paling terdampak dari limbah industri pertambangan adalah para pekerja, seperti yang terjadi pada pertambangan mineral dan batubara. Jika perusahaan tidak menerapkan sistem pengelolaan secara optimal tentu nyawa para pekerja jadi taruhannya.

Jika korban jiwa terus bertambah tentu saja hal seperti itu tidak ideal untuk menjaga perputaran roda produksi. Oleh karena itu sadari bagaimana polusi dapat mempengaruhi efektivitas mereka.

Ketika menggunakan manajemen secara optimal tentu para pekerja akan dapat bekerja secara aman. Ini dapat menjaga perputaran roda produksi tetap optimal dan para pekerja bahagia.

Mempertahankan izin pertambangan

Salah satu alasan penting lainnya kita harus menggunakan manajemen terpadu adalah lisensi. Seorang pengelola tambang tentu akan diambil izin industri pertambangan apabila lalai melakukan pengelolaan limbah.

Tentu kita bisa rugi besar apabila hak penggunaan tersebut nantinya dicabut oleh pemerintah. Oleh karena itu Anda harus perhatikan dengan seksama bagaimana pengelolaannya.

Jangan sampai menganggap sebelah mata masalah hasil pembuangan agar industri tetap berjalan. Ini merupakan hal terburuk yang bisa terjadi ketika kelalaian dilakukan oleh pihak manajemen.

Mengurangi pencemaran lingkungan

Aspek terakhir yang perlu kita perhatikan adalah dampaknya secara langsung atau tidak langsung pada lingkungan. Tidak boleh dilupakan bahwa aktivitas pertambangan ini memang menggunakan bahan kimia.

Ketika tidak bijak dalam penanganan dan pengelolaannya tentu akan sangat berbahaya. Terutama pada flora dan fauna sekitar lingkungannya dapat terganggu karena ada polusi.

Ketiga hal tersebut tentu saja perlu kita jadikan sebagai acuan penting dalam manajemen pembuangan. Jadi Anda sekarang sudah tahu bagaimana risiko terburuk ketika menganggapnya sebelah mata.

Manajemen Limbah Industri Pertambangan Berbentuk Cair

Dalam industri minyak bumi dan pengusahaan pertambangan batubara hasil buangan cair juga menjadi salah satu hal yang harus dipertimbangkan. Banyak orang sering menganggap remeh dengan hanya mengendapkan saja di area pertambangan.

Memang menurut banyak paper dan regulasi internasional itu adalah langkah preventif sehingga tidak mencemari lingkungan air sekitar. Namun ketika hanya dibiarkan saja tanpa langkah berikutnya tentu bisa berbahaya.

Sehingga metode penanganan paling tepat pada hasil buangan berbentuk cair seperti sludge adalah menggunakan cairan kimia khusus. Sekarang metode ini menjadi opsi populer menangani limbah industri pertambangan terutama batubara.

Dengan campuran unsur kimia tertentu proses pengendapan dapat dipercepat sehingga sedimen lekas terbentuk. Setelah sedimen bagian atas tentu saja hanya akan berupa air dan purifikasinya juga mudah.

Artinya penambang tidak perlu menggali kolam penampungan lebih dalam lagi untuk menghemat ongkos operasional. Metode seperti ini memang paling umum diterapkan di berbagai negara terutama Indonesia.

Sayangnya di Indonesia masih banyak para penambang tidak menggunakan sistem akselerator pengendapan dini. Sehingga dalam satu lokasi tambang bisa terdapat banyak kolam pengendapan coal sludge.

Itu tentu saja cukup berbahaya bagi para pekerja di lingkungan tambangnya terutama ketika curah hujan tinggi. Jika pengendapan cepat terjadi maka proses dewatering juga bisa segera dilakukan.

Jadi ketika operasional tambang nantinya sudah selesai tidak perlu butuh waktu lama mengatasi bahan buangan industri pertambangan. Jadi jika kolam coal sludge sudah berhasil dimurnikan dampaknya pada lingkungan menjadi rendah.

Itu adalah metode pendekatan manajemen yang cukup optimal digunakan menangani masalah ini. Coal sludge memang akan memakan banyak tempat terutama jika tidak dikelola secara optimal.

Manajemen Limbah Industri Pertambangan Berbentuk padat

Solid waste adalah salah satu masalah yang cukup merepotkan karena proses pemurniannya mahal. Bahkan untuk pertambangan batubara misalnya jika skalanya tidak besar justru bisa membuat produsen rugi.

Kristalisasi padatan dari hasil penambangan batubara akan menghasilkan silikon dan aluminium. Ini jika dibuang langsung ke alam akan sangat berbahaya dan mencemari terutama di negara tropis seperti Indonesia.

Kandungan aluminium pada kristalisasi tersebut bisa larut terkena air hujan dan mencemari tanah. Oleh karena itu banyak industri pertambangan menggunakan grinding mill silo atau GMS.

Dalam grinding mill kristalisasi akan dipecah sehingga nantinya kita bisa mendapatkan padatan aluminium dan silika. Jika sudah dipisahkan tentu dua bahan tersebut bisa dijual kembali untuk berbagai kebutuhan.

Aluminium jelas untuk kebutuhan smelting karena dapat digunakan lagi menjadi properti baru. Sedangkan silika dapat digunakan untuk kebutuhan pabrik elektronik atau suku cadang kendaraan.

Namun masalahnya adalah tidak semua industri pertambangan mampu membangun integrated mill grinding silo. Biayanya cukup mahal bagi tambang skala kecil terutama jika negaranya Indonesia.

Kita harus mendatangkan mesin dari luar negeri yang harganya relatif mahal untuk jangka panjang. Sehingga salah satu metode paling populer adalah menggunakan senyawa epoksi guna melapisi kristal padatan.

Adanya epoksi tersebut akan melapisi padatan sehingga kandungan silika dan aluminium tidak mudah lepas ke alam bebas. Ini sudah cukup untuk meminimalisir pencemarannya pada lingkungan sekitar.

Sehingga hasil buangan tersebut dapat langsung diangkut untuk dijual sebagai bahan campuran aspal. Ini adalah metode paling murah dan ramah lingkungan bagi para pengelola tambang di Indonesia.

Manajemen Limbah Industri Pertambangan Berbentuk Partikel Ringan

Partikel ringan atau microparticle adalah musuh yang cukup merepotkan bagi hampir semua industri tambang di dunia. Karena kita belum tentu bisa mengamatinya dengan mata telanjang namun masalahnya nyata.

Oleh karena itu langkah paling tepat adalah menggunakan ICSA Coal Dust Suppressant. Dengan menggunakan alat tersebut kita bisa mengikat partikel mikro di udara secara lebih efektif.

Tujuannya adalah agar kandungan aluminium, silika, dan logam berat lainnya tidak mudah terbawa di udara. Setelah kita menggunakan alat tersebut manajemen polusi menjadi lebih terkontrol.

Dari segi visual sendiri kepulan asap hitam dari pertambangan batubara juga akan berkurang signifikan. Sehingga hal tersebut tidak menimbulkan keresahan bagi masyarakat yang tinggal tidak jauh dari area tambang.

ICSA Coal Dust Suppressant adalah salah satu alat yang wajib dimiliki oleh industri tambang terutama batu bara. Ini dapat dijadikan investasi jangka panjang sehingga selama operasional polusi dari mikro partikel dapat terkontrol.

Molekul hidroskopik dari alat tersebut akan dilepaskan secara efektif guna mencegah pelepasan silika ke udara. Selain itu molekul hidroskopik yang dilepaskan juga mengurangi potensi self combustion dari batubara.

Itu tentu saja akan mengoptimalkan keamanan ketika melakukan operasional tambang dalam jangka panjang. Jika sudah ada solusi terbaik seperti ini kita tidak perlu repot mengatasi masalah mikro partikel.

Dengan menggunakan informasi tadi tentu sekarang Anda memiliki referensi dalam mengatasi permasalah dalam pertambangan. Industri pertambangan memang sarat dengan polusi namun akan selalu ada solusi.


icsa